Ayahku (Bukan) Pembohong – Tere Liye

IMG_0974

Judul                       : Ayahku (Bukan) Pembohong

Pengarang             : Tere Liye

Jumlah halaman : 304 halaman

Tahun terbit        : 2011

Penerbit                : PT Gramedia Pustaka Utama

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkrama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya? Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng – dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya. Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Nah, ini novel Tere Liye sebagai bukti come back (ceilaah come back) aku ke dunia baca dan mengulas novel. Okay buat aku pribadi sih awalnya gak ada perkiraan atau ekspektasi awal. Pas baca sesungguhnya agak bingung diawal ya sama sinopsis dibelakang buku. Penasaran banget kenapa sampe si tokoh utamanya bilang ayahku bukan pembohong. Nah seperti biasa ya Tere Liye tuh tutur bahasa, kehangatan keluarga itu bener – bener kerasa banget. Sebagai anak gadis yang dibesarkan oleh dongeng – dongeng aku ngerasain sensasinya menjadi pendengar sama seperti Dam. Cuma memang aku rasain novel ini lebih ke khayalan banget. No no no it’s not like Bumi, Bulan, or Matahari series. Tapi lebih ke high fantasy, jadi moral yang ditekankan. But for sure Tere Liye with his touch he can explain several of fairy tales in logic lane. Aku suka banget baca dongeng it’s such makes your brain works beyond world works. Ada hal – hal yang di dunia ini gak bisa terjadi. Tapi di dongeng semuanya jadi wajar, semuanya jadi mungkin kan. Aku suka banget bisa baca buku yang ada dongeng – dongengnya. Aku rasa pertumbuhan cerita dongeng dengan pertumbuhan cerita yang kurang berfaedah lebih rendah jadi baca dongeng bikin aku excited. Tere Liye dengan apiknya menceritakan tentang Suku Penguasa Angin dan Danau Para Sufi. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari dongeng itu untuk menjadi orang yang lebih baik. Jadi kalau mau marah – marah, lagi sedih suka inget dongeng danau para sufi. You shouldn’t miss that one.  Itu bagus banget. Tiap baca dongengnya aku bisa bayangin oh ya ini masuk diakal even several of it makes me said masa sih. Tapi yang pelajaran paling penting dari buku ini adalah komunikasi. True. Diantara dua orang teman yang akrab bisa terjadi kesalahpahaman hanya karena a bit miscommunication. Dan itu juga bisa terjadi diantara keluarga kita sendiri. Ada lagi yang paling penting dari cerita ini adalah jangan biarkan orang yang kita cintai merasa kesepian karena pikiran – pikiran jahat yang ada di otak kita sendiri. Yang kedua, jangan biarkan orang yang kita cintai salah paham karena hal yang ringan seperti tidak menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya. Jangan buat diri kita menyesali apa yang kita tidak pernah usahakan. Jangan menyesali apa yang kita tidak kerjakan lebih sakit dibandingkan dengan melakukan hal tersebut tapi gagal. At least you’ve tried you’re best. Aku sendiri pengen banget membesarkan anak kecilku dengan dongeng – dongeng it’s making a bond between us kan. Terakhir baca buku ini bikin aku pribadi pengen doing my best in every way for my parent. If you’re asking is this book really good to read? I’ll say don’t miss this book. It’s a good one. 

Disclaimer : This book get 8.9 point yeay

And here we go to my favorite petuah – petuah from this book :

“Kami tidak mendidik kalian sekedar mendapatkan nilai di atas kertas. Seluruh kehidupan kalian selama tiga tahunterakhir, dua puluh empat jam, baik di kelat ataupun tidak adalah proses pendidikan itu sendiri. Itulah penilaian yang sebenar – benarnya. Kau lulus dengan baik.”

“… Selamat melanjutkan hidup. Apa kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat berikutnya di luar sana.”

“…mereka siap menjemput hari yang dijanjikan. Hari ketika semesta alam berpihak pada kesabaran dan keteguhan.”

“Dam, kesombongan dan keserakahan berusia dua ratus tahun itu musnah dalam sekejap. Kepala suku benar, tidak perlu sebutir peluru, juga tidak perlu meneteskan darah anggota klannya untuk memenangkan perang. Yang dibutuhkan hanya kesabaran dan keteguhan hati yang panjang… Mereka memenangkan pertempuran melawan diri mereka sendiri, melawan rasa tidak sabar, menundukkan marah dan kekerasan hati.”

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun – tahun berlatih, bertahun – tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s