Masihkan Senyum Itu Untukku? – Hendra Purnama

Processed with VSCO with c1 preset

Processed with VSCO with c1 preset

Judul                       : Masihkah Senyum Itu Untukku?

Pengarang             : Hendra Purnama

Jumlah halaman : 160 halaman

Tahun terbit        : 2016

Penerbit                : BITREAD Digital Books Imprint Brand Of PT Teknopreneur Indonesia

Tentang Cinta, Tuhan, dan Dua Manusia

Kuhadirkan kau ke dalam mimpi ini untuk setia mendengarkan cerita perjalananku. Tapi sampai saat ini kau hanya tersenyum, padahal aku ingin kau menjawab : Mengapa aku masih harus mencintai kebaikan yang pada akhirnya juga akan sirna?

Masihkah senyum itu untukku? Memotret kisah cinta antara dua manusia. Indra Pratama, seorang penjaga masjid yang introvert, dan Afrina Zakiah, seorang mahasiswi yang pendiam, suka membuat sketsa. Mereka berdua bertemu pada satu masa, lalu tumbuh rasa cinta. Sayangnya cinta selalu berjalan seiring dengan pertanyaan, terutama pertanyaan tentang kejujuran pada diri sendiri. Benarkah aku mencintainya? Salahkah aku mencintainya? Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan dia lakukan? Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Indra dan Afrina, belajar lebih dari sekedar rasa cinta, mereka juga belajar tentang pertanyaan – pertanyaan dan keraguan yang harus dijawab seiring rasa cinta itu datang. Lalu pada akhirnya, mereka harus belajar bahwa rasa cinta itu dititipkan oleh Tuhan dengan cara yang bisa kita pahami. Lalu pilihannya kembali pada mereka, pada kita semua: Apakah akan menjalaninya? Atau tidak?

Aku mencintaimu karena Tuhan, tidak jadi soal kau ada disampingku atau tidak, tidak jadi masalah kau peduli padaku atau tidak, aku hanya ingin menghormati Sang Pemberi Rasa ini. Dia sudah titipkan segumpal rasa cinta, maka aku juga yang harus menjaganya.”

Setelah membaca buku ini kurang lebih tiga jam, ini dia ulasannya. Pertama, bahasa yang digunakan penulis sangat kental dengan bahasa kiasan. Beberapa part ada prosanya, puisinya, bahkan dalam percakapannya juga sangat puitis. Beberapa surat juga kaya akan bahasa kiasan. Mungkin karena pembuatannya di tahun 2000an awal aku rasa masih wajar isi suratnya bahasanya puitis banget. Cuma kalau yang bacanya bukan orang – orang yang terbiasa dengan gaya bahasa ini akan kesulitan memahami jalan ceritanya. Percakapannya sangat jarang hanya beberapa part saja. Lebih banyak penjelasan dengan prosa. Afrina yang digambarkan suka akan membuat sketsa juga hanya digambarkan sekali saja menggambar. Menurut saya sih itu kurang menggambarkan sisi afrina yang itu. Penggambaran Afrina sendiri untuk saya pribadi bikin gemes. Sebegitu ribetnyakah seorang perempuan itu? Dia sendiri gak ngerti maunya apa. Ini salah yang itu bukan. Sambil baca banyak menghela napas saking gemesnya sama kelakuan mbak Afrina. Point yang lain mungkin karena ini buku pertama rangkaian dwilogi kesunyian, jadi akhir ceritanya menggantung. Walaupun penggambaran akhir hubungan Afrina dan Indra sangat jelas menurut aku pribadi. Kekurangannya menurut saya penggambaran Indra dalam pencariannya terhadap ketenangan dan Tuhan kurang. Sehingga aku sendiri sebagai pembaca kurang mengerti bagaimana kisahnya Indra bisa sampai menjadi penjaga mesjid. Kekurangan lainnya yaitu terdapat kesalahan dalam penulisan diantaranya pada halaman 70 seharusnya ditulis “…segera bertemu dengan ibunya” pada buku tertulis “…segera bertemu ibunya dengan”. Kedua, pada halaman 79 penggalan puisi tidak ditulis dengan ukuran huruf yang sama seperti sebelumnya. Ukuran penggalan puisi ditulis dengan ukuran huruf yang lebih kecil. Ketiga, pada halaman 93 katakan tertulis katakana. Keempat, pada halaman 115 tertulis “… di sama.” padahal seharusnya “…di sana”. Kelima, pada halaman 117 tertulis menanrik nafas seharusnya menarik napas. Kelima, pada halaman 127 tertulis untuk seharusnya untung. Ketujuh, pada halaman 152 tertulis “…diriku seribu langkah lebih dekat dengan Tuhan daripada aku.” seharusnya “…dirimu seribu langkah lebih dekat dengan Tuhan daripada aku.” Tips untuk yang ingin membaca cerita ini luangkan waktunya untuk membaca ini dalam konsentrasi yang penuh. Karena butuh waktu tersendiri untuk mencera tiap bab perjalanan hidup Afrina dan Indra. Selamat membaca 🙂

My favorite quote from this book is :

Aku mencintaimu karena Tuhan, tidak jadi soal kau ada disampingku atau tidak, tidak jadi masalah kau peduli padaku atau tidak, aku hanya ingin menghormati Sang Pemberi Rasa ini. Dia sudah titipkan segumpal rasa cinta, ini amanah, maka aku juga yang harus menjaganya.”

Disclaimer : this book get 8.2 point from 10. Congrats

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s