Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

Processed with VSCO with m5 preset

Processed with VSCO with m5 preset

Judul                        : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang             : Tere – Liye

Jumlah Halaman :264 halaman

Tahun terbit         :2016

Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggut dari tangkai pohonnya.

Tere Liye memilih judul yang unik sekali. Buat aku yang alumni mahasiswa biologi daun yang jatuh tak pernah membenci angin ya berarti senescence. Apa itu senescence? Senescence dalam bahasa Latin berarti to grow old atau mengalami penuaan. Dalam mata kuliah fisiologi tumbuhan senescence terjadi pada bagian tumbuhan akibat pemindahan auksin (hormon pertumbuhan) ke bagian yang lebih muda. Kemudian pengisian bagian tersebut dengan hormon etilen (hormon yang menyebabkan buah menjadi lebih cepat matang) dan asam absisat (hormon yang menyebabkan biji mengalami dormansi). Jadi buat aku ya iyalah daun yang jatuh tak pernah membenci angin. It grow old because the transportation of auxin, ethylene, dan abscisic acid. Ya the wind blow just because the bond between leaf and branch too fragile.Wajar daun yang jatuh gak benci angin in tuh karena hormon bukan angin. Eh tapinya dari sana aku belajar lho bahwa kadang ketika kita mengalami masa sulit kita mesti banget nyari pembenaran dan harus dapet yang disalahkan, yang menyebabkan semua ini terjadi. Padahal dengan menerima, dengan mengikhlaskan semuanya lebih ringan dan gak membebani hati kita sendiri.

Okay, langsung aja ke cerita dari buku ini. Buat yang belum baca dan berniat untuk baca. Brace yourself ya. Karena aku baca ini selama 4,5 jam di kereta api dari Bandung ke Jatinegara dan dari Jatinegara ke Bogor dibuat gelisah. Hampir nangis malah. Cuma ya kan malu aja gitu di commuter line yang penuh tetiba nangis gara – gara baca novel wkwkwk. Sepanjang cerita, aku menerka – nerka hati seorang Kak Danar. Kok I seem it really close too reality ya (curhat deh curhat). Cerita yang cuma berisi 264 halaman ini sukses bikin galau dari bab awal. Bikin patah hati bahkan sebelum bab terakhir terbaca. Bikin menghela nafas dan bikin bilang “Duh kenapa sih kalo suka semuanya jadi ribet?” Selama baca ngerasa jadi Tania banget, ngerasa sesak dari satu kata ke kata lainnya sampe pengen nangisnya sama. Ceritanya gak berlebihan tapi bikin penasaran baca sampe akhir. Buat aku pribadi cerita ini bener – bener kayak kisah nyata. Gak seperti biasanya buku ini gak banyak petuah lama tapi banyak banget pelajaran yang bisa kita pelajari. Salah satunya kita berhak menyatakan perasaan kita sama orang lain. Supaya apa? Ya supaya kita tau jawabannya, kalau enggak ya bakalan nyesel selamanya. Buku ini berat banget buat dibaca soalnya gak kayak buku Tere Liye yang lain ini butuh konsentrasi dan keleluasaan dalam membaca. Perasaan yang dibahas sangat kental dan siap membawa kamu buat galau segalau – galaunya orang yang galau. Nah ada beberapa kesalahan pengetikan diantaranya adalah di halaman 174 seharusnya samsak di buku tertulis sansak. Pada halaman 251 seharusnya tertulis telanjur seharusnya terlanjur. Kalau ada yang tanya bukunya bagus gak? Ya ampun no doubt of it bukunya bagus banget. Layak dibaca? Gak boleh kelewatan malah HARUS BACA! Tips aja nih for anyone who has a feelin’ for someone, just say it. I know it’s not easy to say but its better to say than keep in your heart. Who know that she/he has a same feeling like you have. If you ask me do you ever do it? yes i do. Don’t ask me the answer. 

 That’s it. Here we Go for every quotes that I like in this book

“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”

“Aku bukan daun… Dan jelas – jelas dia bukan angin.”

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela – jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat terbang itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.”

“Pohon ini indah karena menakjubkan. Pohon ini indah karena menumbuhkan sesuatu. Menimbulkan perasaaan – perasaan yang tak pernah kita mengerti. Cinta. Pohon ini membuat kita berterus terang dalam kehidupan…”

“KAULAH YANG SALAH KARENA KAU TAK PERNAH MAU MENGAKUINYA!”

“Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana yang simpul nyata dan mana simpul dusta.”

“Kau membunuh perasaan itu seketika tanpa ampun saat pertama kali bersemi… Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kau pangkas. Bersemai satu langsung kau injak. Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan.”

 

Desclaimer : This book gets 9 of 10 point. Congrats

Thanks to teh Iis Casmi yang udah bantuin nyari kata yang typo. Jadi review ini udah ditulis sejak tanggal 28 november 2016 tapi baru di-post karena kurang kata yang typo itu #anastasiaanaknyaperfectionist. Baca bukunya di kereta handphone low battery, gak bawa buku catatan (ya lah mau nonton konser ngapain coba bawa buku catatan? wkwk) alhasil gak sempet nyimpen halaman berapa dan kata apa yang salah. A bunch of thanks teteh, you’ve saved me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s