Hujan – Tere Liye

Processed with VSCO with g3 preset

Judul                        : Hujan

Pengarang             : Tere Liye

Jumlah halaman : 320 halaman

Tahun terbit          : 2016

Genre                       : Fiksi

Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama

Tentang Persahabatan. Tentang Cinta. Tentang Perpisahan. Tentang Melupakan. Tentang Hujan.

Lail seorang gadis yang berusia 13 tahun hidup di tahun 2042. Dimana dunia semakin tua namun kemajuan teknologi sangat pesat. Ia seorang anak tunggal tak pernah bermimpi sebelumnya bahwa kejadian yang mengejutkan terjadi di hari pertama ia masuk. Lail seroang gadis berusia 13 tahun sangat suka hujan. Saat paling bahagia, saat paling menyedihkan selalu terjadi saat hujan. Hidup Lail yang mulanya normal seperti remaja pada umumnya mendadak menjadi rumit karena terlibat dengan kejadian – kejadian dunia. Gadis kecil yang menyukai hujan itu tumbuh menjadi gadis berusia 21 tahun yang membenci hujan. Ia memutuskan untuk melupakan setiap jengkal tetes hujan. Nah kenapa Lail harus bersikukuh melupakan hujan? Silahkan baca bukunya yaaaa..

Ini buku kesekian dari karya Tere Liye yang sanggup meluluhlantahkan aku sebagai pembaca. Cerita ini hampir setengahnya merupakan nasihat. Bagaimanapun buat pembaca pasti akan hanyut dan tenggelam bersama ceritanya. Buku ini bertema tentang alam dan kehidupan manusia. Aku pribadi tidak pernah terpikirkan sampai sejauh itu cerita tentang umat manusia itu. Aku selalu menyukai gaya bahasa Tere liye tentang menganalogikan sesuatu. Tere liye menceritakan dalam bukunya bahwa memang secinta apapun perempuan terhadap lawan jenisnya maka ia akan selalu menunggu. Tentu saja orang yang sabar itu akan menemukan jawaban yang indah. Kira – kira begitu yang aku tangkap dari cerita ini. Latar cerita ini berada di sebuah kota pada tahun 2042. Tere Liye menambahkan teknologi yang mutakhir dalam cerita ini. Untuk ukuran teknologi cerita ini sangat masuk akal dan mungkin saja terjadi. Tere Liye apik sekali dalam membuat cerita mitos. Dibuku ini dan di buku petualangan Raib, Seli, dan Ali juga terdapat cerita yang jadi legenda. Ini cerita ini sesuatu yang baru bukan legenda atau mitos yang sering beredar di masyarakat kita. Aku sudah baca buku ini dua kali. Dua – duanya dibaca saat musim hujan, yang pertama di bulan Januari yang kedua di bulan Nopember. Dan Tere Liye memilih meluncurkan novel hujan saat musim hujan. Lucu ya novel tentang hujan di musim hujan. Nah buku ini buku kesekian Tere Liye yang menginspirasi menceritakan tentang menunggu, tentang mengikhlaskan, tentang menerima, dan tentang mencintai dalam diam. Tere Liye baik sekali dalam membawakan peran Esok, Maryam dan Lail. Pas banget menceritakan setiap kejadian, tidak ada yang berlebihan. Tokoh Lail yang diceritakan juga sangat dekat dengan perilaku perempuan kebanyakan. Sosok Esok yang jenius dan selalu tau dimana rumah sesungguhnya bikin geregetan. Kok lama banget sih ngomong suka aja. Kok tega bikin Lail menunggu tanpa kepastian dan tanpa jawaban. Bukankah cinta itu sederhana? Kira – kira itu yang aku pikirkan selama membaca buku ini. Ada banyak teknologi dan ilmu pengetahuan yang ditawarkan Tere Liye. Walapun aku sendiri tidak setarus persen ngerti tentang gas sulfur dioksida yang mematikan itu. Setidaknya sekarang aku jadi tau bahwa wedus gembel itu isinya gas sulfur dioksida. Terima kasih buat wawasan barunya. Buku ini patut dibaca kenapa karena bagus banget. Berkali – kali aku senyum – senyum, ketawa, sampe pengen nangis baca novel ini. Nah biar tambah penasaran kenapa harus dibaca kalian harus baca kutipan favorite aku dulu. Selamat membaca.

This is my favorite quotes of this book:

“Mereka hanya bisa memeluk semua kesedihan, memeluknya erat- erat, termasuk bagi anak perempuan berusia tiga belas tahun.”

“Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa.”

“Ilmu pengetahuan selalu bisa mengatasi masalah.”

“Kesibukan. Itu selalu menaklukkan pikiran – pikiran negatif.”

“Lail membalas kejamnya takdir dengan membantu orang lain. Mengobati kesedihan dengan berbuat baik.”

“Rasa senang dapat membuatnya sabar menunggu setahun lagi.”

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita bisa menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”

“… ciri – ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok…”

“Bagi orang – orang yang sedang menyimpan perasaan, ternyata bukan soal besok  kiamat saja yang membuatnya panik, susah hati. Cukup hal kecil seperti jaringan komunikasi terputus, genap sudah membuatnya nelangsa.”

“…tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian.”

“Hidup ini juga tentang menunggu, Lail. Menunggu kita untuk menyadari : kapan kita berhenti menunggu.”

“Ada orang – orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.”

“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh sang pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan – jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.”

“… ada banyak hal yang bisa saling dipahami oleh dua sahabat sejati tanpa harus bicara apa pun…”

“Dia sudah berjanji akan melupakan harapan itu. Dia telah menata hatinya dengan sangat hati – hati setahun ini. Dia tidak akan membiarkannya berantakan kembali dengan bertemu Esok.”

“…hanya orang – orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang – orang yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah – marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukkan diri sendiri.”

“Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”

“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat – erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.”

Disclaimer : This book is very very absolutely great. Aku baca sampe dua kali dan gak pernah bosen. Beside there are a lot of quotes in there. This book got 9 point of 10. Congrats

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s