Tentang Kamu – Tere Liye

Judul                       : Tentang Kamu

Pengarang             : Tere Liye

Penerbit                 : Republik Penerbit

Jumlah halaman : vi + 524

Tahun terbit         : 2016

Dimensi                :

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu. Itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi – mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengali. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

Novel ini berkisah tentang pencarian ahli waris dari Sri Ningsih oleh ksatria hukum bernama Zaman Zulkarnaen. Zaman harus memulai sejarah hidup Sri jauh dari London. Mengetuk setiap pintu yang ada untuk bertanya kisahnya. Mulai mencari tahu sejak bayi hingga meninggal di jantung Kota Fashion, Paris. Sedikit sekali petunjuk yang ditinggalkan oleh Sri untuk Zaman. Setiap orang yang kembali mengulang kisah Sri menganggap dia orang yang memiliki hati yang sebening kristal. Zaman pun bersikukuh mencari tahu ahli waris yang berhak mendapatkan warisannya. Setiap bab selalu memunculkan kejadian – kejadian hebat dari yang paling cemerlang sampai yang paling mengerikan.

Keunggulan dari novel ini sekali lagi buku ini salah satu buku karya tere liye yang membuktikan bahwa ketulusan adalah sesuatu yang ajaib. Terlepas dari gigih dan sabar yang tak berbatas Sri mengingatkan kita bahwa memeluk kembali masa lalu yang kelam akan membuat hati tenang. Gaya bahasa yang lugas dan jelas. Penggambaran kota yang tidak berlebihan cukup sukses membuat pembaca memiliki gambaran tentang kota London, Little India, Paris, Surakarta, dan Sumbawa. Seperti pada buku novel yang lain selalu ada nasehat lama yang mengingatkan pembaca. Alurnya yang bergerak maju mundur membuat pembaca berkali kali memasuki tahun – tahun yang berbeda. Pengambaran penulis tentang kehidupan Sri pun ditambahkan dengan unsur sejarah yang terjadi. Seperti sejarah pembangunan Monas, Malapetaka 15 Januari, Krisis Moneter, bahkan sempat membahas kejadian yang menggemparkan dunia peritiwa Y2K tahun 2000. Semua kejadian yang Sri alami tidak terputus melainkan memiliki benang merah terhadap warisannya maupun tokoh – tokoh yang disebutkan dalam novel.

Novel ini memiliki keunggulan namun tak luput dari kekurangan. Pertama terdapat kesalahan penyebutan tokoh seharusnya Sri Ningsih di buku ditulis Sri Rahayu pada halaman 84 paragraf ketiga baris ketiga dan pada halaman 137 paragraf kelima baris ketiga. Kesalahan kembali terulang di halaman 508 paragraf kedua baris ketiga seharusnya Lastri dan Murni di buku tertulis Lastri dan Ningrum, padahal Lastri alias Ningrum. Kedua, penyebab meninggalnya Nugroho anak Sri karena perbedaan rhesus antara ibu dan anak. Terlepas dari Sri dan Hakan sama – sama orang Asian yang kemungkinan besar berhesus positif. Penyakit yang diderita Nugroho adalah Eritroblastosis fetalis. Penyakit ini sudah dikenali oleh dunia kedokteran sejak kurang lebih pada tahun 1932. Jadi, agaknya berlebihan bila petugas kesehatan sekelas kota London yang membantu Sri melahirkan tidak bisa mendiagnosis sejak awal kelahiran. Karena warna kulit bayi akan kuning saat dilahirkan dan pasti langsung ditindak lanjuti dengan tidak diperbolehkan menyusui langsung ke ibu untuk mendapatkan perawatan. Penulis bisa membuat kematian Nugroho dengan misalnya terlilit tali pusar sehingga warna bayi kebiruan kekurangan oksigen atau plasenta bayi mengalami pengapuran sejak awal karena Sri hamil diusia yang rentan, sehingga bayi kurang nutrisi dan oksigen.Ada kesalahan dalam penyebutan anak Nur’aini dalam surat Sri yang ke-19 di paragraf pertama Sri mengatakan “Wahid, itu nama putra kelima. Ini anak terakhir sesuai rencanakalian kan?” Sementara di paragraf kelima kalimat kedua “Menjengukmu, bertemu dengan tujuh anakmu.” Halaman 148 paragraf kelima Wahid mengatakan bahwa ia bungsu dari lima saudara.

Kutipan yang paling saya sukai dari buku ini diantaranya

“Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung -gunung akan rata, lautan akan kering, tidak ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apapun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya.”

Betapa keserakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas.”

“Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus dilakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita telah tiba pada batas akhirnya? berapa kali kita harus menerima kenyataan, untuk tahu bahwa kita memang tidak berbakat, sesuatu itu bukan jalan hidup kita, lantas melangkah mundur? Bukan berapa kali, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi.”

“Kenapa orang mudah mengkhianati? bukankan dalam hidup ini kejujuran adalah hal penting?”

“Sri akan memeluk semua rasa sakit. Dulu. Sekarang. Esok lusa hingga kita bertemu lagi.”

 

Resensi ditulis oleh : Anastasia N

Desclaimer : saya suka banget buku ini buat saya buku ini layak dapat nilai 9 dari 10.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s